Eventbogor.com – Dugaan adanya belatung dalam menu Program Makan Bergizi Gratis di Desa Pangkaljaya, Kabupaten Bogor, memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat.
Kejadian ini menjadi sorotan setelah viral di media sosial pada Jumat 24 April 2025, ketika seorang wali murid mengunggah temuan belatung dalam buah yang disajikan kepada siswa.
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang ditujukan untuk mendukung gizi anak sekolah kini dipertanyakan kualitas dan pengawasannya.
Kejadian ini menyoroti pentingnya pengelolaan yang transparan dan ketat dalam pelaksanaan program pemerintah di bidang pangan, terutama yang menyasar anak-anak sebagai generasi penerus.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bersama Kajian Strategis Kawal Transparansi dan Reformasi Kabupaten Bogor menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut.
Mereka menilai kejadian ini mencerminkan kelalaian serius dari pengelola Satuan Pendidikan Penyelenggara Program (SPPG).
Direktur LBH, Nurdin Ruhendi, menegaskan bahwa program yang menyasar anak-anak harus mengedepankan keamanan dan kualitas pangan tanpa kompromi.
Ia menilai ironis jika program pemerintah yang bertujuan mulia justru ditemukan berbagai pelanggaran standar higienis.
Nurdin mendesak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPN) untuk menutup SPPG yang terbukti lalai dalam menjaga kualitas makanan.
Ia juga meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai distribusi dan pengolahan dalam program MBG.
Jika terbukti makanan tidak layak konsumsi, termasuk ditemukan belatung, maka harus ada sanksi tegas terhadap pihak terkait.
LBH tidak menutup kemungkinan menempuh jalur hukum jika tidak ada tindakan nyata dari instansi berwenang.
Kepala SPPG Hambaro, Sri, mengakui telah melakukan penyortiran bahan baku secara ketat, termasuk dua kali pemeriksaan sebelum pengolahan.
Namun, ia menjelaskan bahwa kondisi buah dari pemasok terlihat baik secara fisik dari luar, sehingga keberadaan belatung sulit terdeteksi sejak awal.
Pihaknya kini sedang meminta pertanggungjawaban dari pemasok terkait kualitas bahan baku yang diberikan.
SPPG Hambaro juga menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua siswa dan masyarakat atas kejadian ini.
Mereka berjanji akan meningkatkan prosedur seleksi bahan baku dan memperketat pengawasan ke depan.
Koordinator Kecamatan SPPG Nanggung, Anang, menambahkan bahwa peristiwa ini telah dijadikan bahan evaluasi internal.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan tidak terulang di masa mendatang.
Insiden ini memicu keresahan di kalangan orang tua dan siswa terhadap kualitas makanan dalam program MBG.
Orang tua mengharapkan jaminan bahwa makanan yang dikonsumsi anak-anak benar-benar aman, bergizi, dan layak secara higienis.
Kepercayaan terhadap program pemerintah sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan transparansi pengelolaan.
Ke depan, diperlukan sistem monitoring yang lebih ketat, termasuk keterlibatan pihak ketiga atau komite sekolah dalam pengawasan harian.
Program Makan Bergizi Gratis harus tetap menjadi solusi bagi ketahanan pangan anak, bukan sumber risiko kesehatan.
Dengan perbaikan sistem dan akuntabilitas yang jelas, program ini dapat kembali dipercaya oleh masyarakat hingga tahun 2026 dan seterusnya.
