Eventbogor.com – Polemik pelayanan Rumah Sakit Universitas Padjadjaran (RS Unpad) di Jatinangor, Kabupaten Sumedang terus menuai sorotan publik.

Pelaporan dari pasien dan keluarga mengungkapkan adanya kejadian serius dalam pelayanan medis, termasuk durasi kunjungan dokter yang sangat minim.

Kasus ini menjadi sorotan setelah Sonia Sugian, salah satu keluarga pasien, membuka suara mengenai pengalaman pahit selama mendampingi kerabatnya di ruang rawat inap.

Sonia menyebutkan bahwa pasien harus menunggu hingga 20 jam tanpa kunjungan dokter sama sekali.

Kejadian ini menambah daftar panjang persoalan yang menghantui RS Unpad Sumedang sejak awal beroperasi.

RS Unpad Sumedang, yang dibangun sebagai fasilitas kesehatan pendidikan dan pelayanan publik, diharapkan mampu memberikan standar layanan tinggi.

Namun kenyataannya, sejumlah pasien dan keluarga merasa kecewa dengan respons yang lambat dan minimnya komunikasi dari tim medis.

Sonia Sugian mengungkapkan rasa frustrasinya saat ditemui di ruang rawat inap.

Kami sudah menunggu dari malam hingga keesokan hari, tidak ada dokter yang datang memeriksa kondisi pasien, padahal pasien dalam keadaan lemah dan butuh evaluasi rutin, ujarnya.

Ia menekankan bahwa kunjungan dokter adalah bagian krusial dari perawatan pasien rawat inap.

Kelalaian ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pasien.

Pihak keluarga merasa terabaikan dan tidak diberi penjelasan yang memadai atas keterlambatan kunjungan medis tersebut.

BACA JUGA :  Pelindo Genjot Tol Cibitung-Cilincing: Jurus Tekan Biaya Logistik, Ekonomi Meroket?

Kasus ini memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk aktivis kesehatan dan akademisi.

Mereka menilai bahwa RS pendidikan seharusnya menjadi contoh dalam pelayanan kesehatan yang profesional dan manusiawi.

RS Unpad harusnya menjadi rujukan yang andal, bukan justru mengecewakan masyarakat yang membutuhkan, kata dr. Lina Marlina, pengamat kebijakan kesehatan dari Unpad.

Menanggapi hal ini, pihak manajemen RS Unpad telah menyatakan akan melakukan evaluasi internal terhadap sistem penjadwalan kunjungan dokter.

Mereka mengakui adanya kekurangan dalam koordinasi tim medis dan berjanji untuk memperbaikinya.

Pihak rumah sakit juga berencana membentuk tim pengawas pelayanan guna memastikan standar operasional prosedur (SOP) diterapkan secara konsisten.

Sementara itu, keluarga pasien meminta agar pihak rumah sakit memberikan klarifikasi resmi dan meminta pertanggungjawaban atas kelalaian tersebut.

Mereka berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Polemik ini menjadi momentum penting bagi RS Unpad untuk merefleksikan kembali komitmennya terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Dengan jumlah pasien yang terus meningkat, sistem pelayanan harus diperkuat agar tidak mengorbankan keselamatan dan hak pasien.

Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan di institusi pendidikan tinggi.

Ke depan, masyarakat berharap RS Unpad Sumedang dapat menjawab tantangan ini dengan langkah nyata, bukan sekadar janji.

Perbaikan sistem harus dilakukan segera agar rumah sakit ini dapat menjalankan perannya secara optimal sebagai pusat pelayanan dan pendidikan kesehatan unggulan.

BACA JUGA :  Ciseeng Bangkitkan Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Bersih-bersih