Eventbogor.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menginisiasi pelatihan pemanfaatan bambu sebagai bahan baku bioenergi dan bioinsektisida di Desa Cibugel, Kabupaten Sumedang.

Program ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi lokal berbasis sumber daya alam yang melimpah di wilayah tersebut.

Bambu dipilih sebagai fokus pengolahan karena pertumbuhannya yang cepat, ramah lingkungan, dan potensinya sebagai alternatif energi terbarukan.

Para peserta pelatihan diajarkan teknik pembuatan briket dari serbuk bambu yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Tidak hanya itu, tim SITH ITB juga memperkenalkan metode ekstraksi senyawa alami dari bambu untuk dijadikan bioinsektisida organik yang aman bagi tanaman dan petani.

Dr. Rina Sriwati, koordinator tim pengabdian, menjelaskan bahwa bambu mengandung senyawa flavonoid dan alkaloid yang memiliki aktivitas insektisida alami.

Kami ingin masyarakat bisa memanfaatkan bambu secara maksimal, tidak hanya sebagai bahan bangunan, tetapi juga sebagai solusi pertanian dan energi yang berkelanjutan, ujarnya.

Pelatihan diikuti oleh puluhan petani dan pemuda desa yang dilatih langsung dalam proses pengolahan bahan baku hingga produk akhir.

Alat dan bahan yang digunakan sengaja dipilih yang mudah diperoleh dan terjangkau agar teknologi ini dapat diadopsi secara mandiri oleh masyarakat.

Harapannya, inovasi ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia dan bahan bakar konvensional yang berdampak negatif terhadap lingkungan.

BACA JUGA :  Geger! Rekor Baru Pecah di Oscar 2026: Film Ini Bikin Sejarah!

Program ini juga sejalan dengan agenda nasional pengembangan bioekonomi dan transisi energi bersih yang dicanangkan pemerintah untuk tahun 2026 dan seterusnya.

Masyarakat Desa Cibugel menyambut baik inisiatif ini dan berharap dapat membuka peluang usaha baru berbasis ekowisata atau industri rumahan berkelanjutan.

Kolaborasi antara ITB dan pemerintah desa akan terus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan program pasca pelatihan.

Pendekatan ilmiah dan partisipatif yang diterapkan diharapkan menjadi model replikasi di desa-desa lain dengan potensi serupa di Jawa Barat.

Dengan pemanfaatan bambu secara optimal, desa bisa menjadi lebih mandiri, hijau, dan tangguh terhadap perubahan iklim.