EventBogor.com – Sabtu sore yang kelabu di Kampung Cimanggu, Bogor, berubah menjadi duka. Rumah milik Pak Subki Amin, warga Desa Mekarsari, rata dengan tanah. Sebuah tragedi yang mengingatkan kita pada kerapuhan hidup, sekaligus ketangguhan semangat gotong royong.

Bayangkan Anda baru saja bangun tidur, lalu tiba-tiba… BRAK! Dapur rumah Anda roboh. Itulah yang dialami Pak Subki, Sabtu (25/05/2025). Sebuah petaka yang datang tak diduga, memaksa dirinya dan keluarga mengungsi. Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh, kini tinggal puing-puing kenangan.

Menunggu Bantuan, Terlambat Sudah

Pak Subki, dengan nada getir, menceritakan bahwa ia sudah mengajukan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sejak 2023. Namun, janji tinggal janji. Survei telah dilakukan, foto-foto rumah telah diambil, tapi bantuan tak kunjung tiba. Sebuah ironi yang menyayat hati, bukan?

Kisah Pak Subki bukan cerita baru di negeri ini. Banyak warga yang bernasib serupa, menunggu bantuan pemerintah yang tak kunjung datang. Birokrasi yang berbelit, anggaran yang terbatas, atau mungkin prioritas yang berbeda, menjadi alasan klise yang sering kita dengar.

Kades Zona: Upaya yang Sudah Dilakukan

Kepala Desa Mekarsari, yang akrab disapa Kades Zona, mengakui bahwa pihaknya telah berupaya melakukan koordinasi dengan BPBD dan Kecamatan. Namun, musibah tak bisa dicegah. Tim survei telah datang, namun takdir berkata lain.

BACA JUGA :  Jakarta 'Tenggelam': Daftar Rute Transjakarta yang Terdampak Banjir!

Kabar baiknya, bantuan Rutilahu untuk Pak Subki akhirnya akan terealisasi tahun ini. Anggaran Rp15 juta sudah dialokasikan. Namun, apakah cukup untuk membangun kembali rumah yang telah rata dengan tanah? Pertanyaan itu menggantung di udara.