EventBogor.com – Di tengah gemerlap pembangunan perumahan di Tenjo, kabar pilu datang dari SDN Babakan 01. Bayangkan, enam tahun sudah satu ruang kelas dan perpustakaan sekolah ini menjadi ‘gudang’ karena rusak parah. Sebuah ironi, bukan?

Sekolah yang ‘Dilupakan’: Potret Buram Pendidikan di Tenjo

Kerusakan bangunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2020 ini, menurut Kepala Sekolah Ade Arif, sudah tak layak pakai sejak ia bertugas di tahun 2022. Kayu lapuk, atap bocor, dan plafon hancur menjadi pemandangan sehari-hari. Kondisi ini bukan hanya mengganggu proses belajar-mengajar, tapi juga mengancam keselamatan siswa dan guru. Apakah kita rela generasi penerus bangsa belajar dalam ancaman bahaya?

Kenapa Ini Penting Sekarang? Memahami Dampak Nyata

Kita seringkali mendengar janji manis tentang peningkatan kualitas pendidikan. Namun, bagaimana mungkin janji itu terwujud jika fasilitas dasar seperti ruang kelas saja tak layak pakai? Lebih dari 350 siswa terpaksa berbagi 12 ruang kelas yang aktif. Bayangkan, bagaimana mereka bisa fokus belajar jika harus berdesakan atau bahkan merasa khawatir dengan kondisi bangunan? Ini bukan hanya soal ‘kenyamanan’, tapi juga soal hak anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak.

Usaha yang Sia-Sia? Jeritan Hati Kepala Sekolah

Pihak sekolah, dengan penuh harapan, telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan melalui forum musrenbang di berbagai tingkatan. Namun, hingga kini, belum ada respons konkret dari pemerintah daerah. Apakah suara mereka tak didengar? Apakah perhatian hanya terfokus pada pembangunan fisik tanpa memperhatikan kebutuhan mendasar seperti pendidikan?

BACA JUGA :  Spanyol Geser Argentina dari Puncak Ranking FIFA Setelah 2 Tahun

Apa Artinya Bagi Kantong Anda? (Dan Masa Depan Kita)

Mungkin Anda berpikir, ‘Ah, itu urusan pemerintah.’ Tapi, ingatlah, pendidikan adalah investasi bagi masa depan. Kualitas pendidikan yang buruk akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia, yang pada akhirnya akan memengaruhi kemajuan daerah dan negara. Ini bukan hanya soal anggaran, tapi juga soal prioritas. Apakah kita benar-benar peduli pada masa depan anak-anak kita?

Contoh Nyata: Skenario yang Bisa Terjadi