Sementara itu, kondisi sarana perkeretaapian juga ikut disorot, termasuk usia rata-rata kereta yang masih beroperasi hingga belasan bahkan puluhan tahun.
Prasetyo mengungkap, Presiden sempat mengecek langsung tahun pembuatan kereta-kereta yang terlibat sebagai bagian dari analisis risiko sistemik.
Pertanyaannya kini bukan cuma siapa yang salah, tapi bagaimana sistem bisa membiarkan potensi bahaya ini bertahan begitu lama.
Evaluasi total yang diminta Presiden mencakup aspek teknologi, manajemen operasional, hingga tata kelola SDM di PT KAI dan instansi terkait.
Langkah antisipatif pun dituntut segera hadir, bukan sekadar reaksi setelah tragedi terjadi.
Masyarakat butuh jaminan bahwa naik kereta api bukan lagi undian berhadiah risiko tinggi.
Dengan jumlah penumpang yang terus meningkat, terutama di jam-jam puncak, tekanan pada infrastruktur dan sistem pengawasan semakin nyata.
Pemerintah kini dihadapkan pada dilema: percepat modernisasi atau terus bayar mahal dengan nyawa?
Kecelakaan Bekasi Timur mungkin bukan yang pertama, tapi semua berharap ini menjadi titik balik nyata bagi reformasi transportasi publik di Indonesia.