Eventbogor.com – Ketegangan di Timur Tengah sejak awal 2026 memang membuat banyak negara waspada terhadap potensi gangguan pasokan pangan global.
Namun, bagi Indonesia, situasi ini belum berdampak signifikan berkat strategi pengamanan stok dan diversifikasi jalur impor yang telah diterapkan jauh sebelum krisis merebak.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa ketersediaan 11 komoditas pangan pokok masih dalam kondisi surplus hingga Juni 2026.
Sarwo Edhy, Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, menyampaikan bahwa jalur perdagangan utama impor pangan Indonesia tidak melewati kawasan rawan konflik seperti Selat Hormuz.
Karena itu, meskipun arus maritim di Timur Tengah terganggu, pasokan bahan pangan ke Tanah Air tetap berjalan normal tanpa hambatan besar.
Indonesia mengimpor kedelai dari Amerika Serikat, daging kerbau dari India, sapi dari Australia, dan bawang putih dari Tiongkok—semuanya berasal dari wilayah yang tidak terdampak langsung oleh ketegangan geopolitik saat ini.
Strategi diversifikasi sumber impor ini disebut Sarwo sebagai kunci utama dalam menjaga kelancaran distribusi dan stabilitas harga pangan nasional.
Dengan langkah antisipatif tersebut, pemerintah berhasil mencegah lonjakan harga yang biasanya mengikuti gejolak global.
Bahkan data terbaru menunjukkan penurunan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga pangan, indikasi kuat bahwa inflasi di sektor ini mulai terkendali.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya jangka panjang pemerintah untuk memperkuat kedaulatan pangan, termasuk percepatan program swasembada dan optimalisasi produksi dalam negeri.