Sektor perkebunan dan kehutanan berhasil mengumpulkan investasi sebesar Rp29,8 triliun, didorong kuat oleh industri kelapa sawit yang tetap menjadi primadona ekspor dan pengolahan dalam negeri.
Angka ini menunjukkan bahwa diversifikasi bukan sekadar wacana, melainkan sudah mulai diwujudkan lewat komitmen nyata para pelaku usaha dan insentif pemerintah.
Tak kalah penting, sektor migas juga masih relevan dengan realisasi investasi Rp17,7 triliun, menunjukkan bahwa transisi energi tidak serta-merta menggeser peran energi fosil dalam struktur industri jangka pendek.
Pemerintah sendiri mengakui perlunya pemerataan, bukan hanya antar-sektor, tapi juga antar-wilayah, terutama di luar Pulau Jawa.
Rosan menegaskan bahwa dorongan terus dilakukan agar investasi tidak hanya terpusat di satu pulau, meskipun tantangan infrastruktur dan ekosistem bisnis di daerah masih menjadi kendala tersendiri.
Apakah strategi pemerataan sudah cukup efektif? Belum sepenuhnya, tapi trennya menuju ke arah yang benar.
Kehadiran kawasan ekonomi khusus (KEK) dan perbaikan logistik di wilayah timur Indonesia mulai menarik minat investor untuk melirik potensi di luar Jawa.
Yang jelas, Indonesia sedang berusaha keras menjaga momentum tanpa mengorbankan keseimbangan struktural.
Hilirisasi bukan cuma soal nilai tambah komoditas, tapi juga soal distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata, baik secara sektoral maupun geografis.
Ke depan, kuncinya ada pada kemampuan mengonversi potensi menjadi proyek riil yang berdampak langsung pada lapangan kerja dan pertumbuhan inklusif.