Tapi di lapangan, informasi justru lebih dulu menyebar lewat grup WhatsApp, komunitas lokal, atau akun-akun mikro-influencer yang dekat dengan masyarakat.
Artinya, pusat narasi bukan lagi di Jakarta atau kantor-kantor besar, tapi tersebar di pelosok, di desa-desa, bahkan di warung kopi.
Agus menyarankan agar pemerintah mulai membangun jaringan komunikasi paralel yang bisa merespons cepat, bukan hanya mengandalkan siaran pers formal.
Perlu ada satuan tugas digital yang gesit, paham budaya daring, dan mampu berbicara dalam bahasa yang nyambung dengan publik.
Transformasi ini bukan opsional lagi — kalau tidak dilakukan, risiko kehilangan kendali atas opini publik akan terus menghantui.
Di tahun 2026, ketika platform digital semakin mendominasi cara orang berpikir dan bersikap, pemerintah tak bisa lagi main-main dengan waktu.
Kepercayaan publik dibangun bukan hanya dari kebenaran informasi, tapi juga dari seberapa cepat dan relevan suara resmi itu hadir.