Eventbogor.com – Komunitas Mualaf Center Rancabungur di bawah naungan Yayasan Cahaya Qur’an menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam pembinaan jamaah mualaf di Kabupaten Bogor.
Awalnya hanya terdiri dari empat orang, kini jumlah peserta pembinaan rutin meningkat menjadi 14 jamaah aktif yang berasal dari berbagai latar belakang sosial dan etnis.
Perkembangan ini mencerminkan efektivitas program pendampingan yang difokuskan pada penguatan iman dan pemahaman ajaran Islam bagi para mualaf di wilayah Rancabungur.
Pembinaan dilaksanakan secara rutin di Pondok Pesantren Cahaya Qur’an, yang berlokasi di Kampung Wates RT 01 RW 03, Desa Rancabungur, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor.
Lokasi strategis pondok pesantren menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan spiritual bagi para mualaf yang baru memeluk agama Islam.
Dari total 14 jamaah aktif, sembilan di antaranya adalah perempuan dan lima lainnya laki-laki, dengan mayoritas berasal dari keturunan Tionghoa yang memilih memeluk Islam secara sukarela.
Komunitas ini hadir sebagai respons terhadap kebutuhan mualaf akan pendampingan berkelanjutan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.
Harry Suharlan, yang dulu dikenal sebagai Chung Coan Liang atau Akiong, menjadi pendiri sekaligus penggerak utama Mualaf Center Rancabungur.
Ia menekankan bahwa tujuan utama pendirian komunitas ini adalah membantu para mualaf memahami ajaran Islam secara komprehensif dan menjalankannya dengan istiqomah.
Pembinaan mencakup berbagai aspek dasar keislaman seperti tata cara ibadah, membaca Al-Qur’an, serta penguatan akidah dan akhlak.
Menurut Harry, tanpa pendampingan yang intensif, para mualaf berisiko mengalami kebingungan atau merasa terasing dalam lingkungan baru mereka.
Oleh karena itu, pendekatan holistik yang menggabungkan aspek edukatif dan emosional menjadi fondasi dari program pembinaan di Mualaf Center Rancabungur.
Ustaz Kurnia ditunjuk sebagai pengasuh utama dalam proses pembinaan, dengan tanggung jawab mengarahkan seluruh kegiatan keagamaan bagi jamaah mualaf.
Sementara itu, istri Ustaz Kurnia secara khusus membimbing jamaah perempuan, memberikan ruang aman dan nyaman bagi para mualaf wanita untuk belajar dan berkembang.
Pendekatan gender sensitif ini memastikan bahwa kebutuhan spiritual dan psikologis setiap jamaah terpenuhi secara proporsional.
Selain sebagai wadah pembelajaran, Mualaf Center Rancabungur juga berperan sebagai ruang silaturahmi dan saling dukung antar sesama mualaf.
Kehadiran komunitas ini membantu mengurangi rasa kesepian dan ketidakpastian yang sering dirasakan oleh para mualaf di awal perjalanan keislaman mereka.
Harry menyampaikan rasa syukur atas pertumbuhan jumlah jamaah dari empat menjadi 14 orang dalam periode relatif singkat.
Perkembangan ini menjadi motivasi bagi tim pembina untuk terus memperluas jangkauan dakwah dan meningkatkan kualitas pembinaan.
Pihaknya berharap agar ke depannya semakin banyak mualaf yang bergabung dan mendapatkan manfaat dari program ini.
Harry juga mengajak berbagai pihak, baik individu maupun lembaga, untuk turut mendukung keberlangsungan kegiatan dakwah dan pembinaan mualaf di Rancabungur.
Dukungan dapat berupa tenaga, materi, maupun penyebaran informasi agar komunitas ini semakin dikenal dan bisa menjangkau lebih banyak calon mualaf.
Visi jangka panjang Mualaf Center Rancabungur adalah melahirkan generasi muslim yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara benar, tetapi juga mampu mengamalkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan yang humanis, inklusif, dan berkelanjutan, komunitas ini diharapkan menjadi model pembinaan mualaf yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Di tengah dinamika sosial dan keragaman agama di Bogor, keberadaan Mualaf Center Rancabungur menjadi bukti nyata bahwa Islam dapat diterima dengan hati terbuka oleh siapa pun, tanpa diskriminasi.
Kegiatan pembinaan rutin ini terus berlangsung hingga tahun 2026, menunjukkan komitmen kuat dalam membangun fondasi keislaman yang kokoh bagi para mualaf baru.
