Eventbogor.com – Hujan deras yang mengguyur Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, membuat kondisi jalan utama semakin memprihatinkan.

Lubang besar yang tersebar di sepanjang ruas jalan tertutup genangan air, menyulitkan pengendara melihat bahaya di depan.

Refi, seorang pemuda asal Nanggung, menjadi salah satu korban terperosok ke dalam lubang saat melintas dengan sepeda motor.

Ia terjatuh di atas aspal basah dan hanya mengalami luka ringan, namun trauma masih membekas dalam ingatannya.

Kejadian yang menimpa Refi bukanlah yang pertama kali terjadi di wilayah ini.

Warga setempat mengungkapkan bahwa kecelakaan di sepanjang jalan Cigudeg–Nanggung–Sukajaya kerap terjadi hampir setiap pekan.

Jalan yang seharusnya menjadi akses vital bagi masyarakat justru berubah menjadi ancaman keselamatan publik.

Refi mengaku takut melintasi jalan tersebut saat hujan karena lubang-lubang besar tidak terlihat tertutup air.

Kondisi jalan rusak di Kecamatan Nanggung kembali mencuri perhatian publik setelah video viral di media sosial pada awal April 2026.

Dalam video tersebut, Refi bersama teman-temannya menunjukkan secara langsung kondisi jalan yang rusak parah di Kampung Cadas Leur, Desa Bantarkaret.

Ia menegaskan bahwa ruas jalan Kalongliud–Bantarkaret merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Namun, menurutnya, belum ada upaya serius dari pemerintah daerah untuk memperbaikinya.

“Ieu jalan milik Pemda Kabupaten Bogor, rusak kieu teu aya nu paduli,” ujar Refi dalam video yang beredar luas.

BACA JUGA :  Eventbogor.com - Program Pentahelix Hingga Akses Piala Dunia 2026: Update Terkini Jabar dan Sekitarnya

Ruas jalan tersebut menjadi jalur utama yang dilalui warga sehari-hari, namun kondisinya terus memburuk akibat minimnya perawatan.

Minimnya respons dari pihak berwenang memicu aksi mandiri dari masyarakat setempat.

Warga Desa Bantarkaret mulai menggalang dana secara swadaya untuk menambal jalan berlubang dengan material seadanya.

Mereka membeli semen dan batu secara bergotong royong demi memastikan akses jalan tetap bisa dilalui.

Aksi serupa juga terjadi di Desa Cisarua, tepatnya di Jalan Kampung Pongkor.

Pemuda setempat patungan dana untuk memperbaiki jalan yang telah rusak parah selama bertahun-tahun.

Upaya warga ini menjadi simbol kekecewaan sekaligus semangat kolektif dalam menghadapi ketiadaan layanan publik.

Padahal, infrastruktur jalan merupakan bagian penting dari konektivitas dan perekonomian masyarakat pedesaan.

Keterbatasan akses jalan berdampak langsung pada mobilitas, distribusi barang, dan layanan darurat.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bogor terkait rencana perbaikan jalan di wilayah tersebut.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan dan tidak membiarkan masyarakat menanggung beban perbaikan infrastruktur secara mandiri.

Kasus ini menggarisbawahi pentingnya respons cepat dan pemeliharaan rutin jalan daerah, terutama di kawasan rawan hujan dan longsor.

Kondisi jalan yang dibiarkan rusak berkepanjangan berpotensi menimbulkan korban jiwa dan kerugian sosial yang lebih besar.

Ke depannya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat perlu diperkuat agar pembangunan infrastruktur lebih merata dan berkelanjutan.

BACA JUGA :  Kerapihan & Profesionalisme: Kapolres Bogor Periksa Personel, Perkuat Kepercayaan Masyarakat