EventBogor.com – Kabar duka sekaligus ironis datang dari Tenjo, Bogor. Peninjauan rumah tidak layak huni (RTLH) di Desa Cilaku justru menuai kritik pedas. Hadirnya para pejabat desa dan kecamatan dinilai hanya seremonial, tanpa solusi nyata bagi warga yang memprihatinkan.
Bayangkan, Anda berjalan-jalan di kawasan yang sedang bertumbuh pesat, dengan perumahan mewah berdiri megah. Namun, beberapa langkah dari kemewahan itu, Anda menemukan rumah-rumah yang nyaris roboh, atap bocor, dan dinding retak. Inilah potret miris yang dialami sebagian warga Tenjo saat ini. Kritikan pedas ini muncul dari warga bernama Adhari yang menyoroti kurangnya tindakan konkret dari pemerintah. Ia mempertanyakan mengapa perbaikan satu rumah saja harus menunggu birokrasi berbelit.
Kesenjangan yang Menganga: Antara Gapura dan Rumah Warga
Kritik serupa datang dari Nurdin Ruhendi, aktivis lokal yang menyoroti ketimpangan pembangunan yang semakin kentara. “Pembangunan tidak seimbang. Gapura diperindah, tapi rumah warga masih banyak yang tidak layak,” ujarnya. Ini bukan sekadar masalah estetika, tetapi juga cerminan dari ketidakadilan sosial. Di mana pembangunan hanya dinikmati sebagian pihak, sementara yang lain berjuang untuk sekadar memiliki tempat tinggal yang layak.
Kisah Watni: Potret Pilu di Tengah Kemajuan
Kisah Watni, seorang nenek yang tinggal sendirian di rumah reyot, menjadi simbol nyata dari permasalahan ini. Rumahnya yang hampir roboh, menjadi bukti nyata betapa lambatnya bantuan pemerintah sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah pesatnya pembangunan kawasan Tenjo, termasuk proyek perumahan skala besar. Geliat pembangunan yang seharusnya membawa dampak positif, nyatanya belum menyentuh masyarakat kecil.
Bram dari Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) bahkan menyebut kasus Watni sebagai cerminan nyata ketimpangan sosial. “Yang sering digaungkan peningkatan ekonomi, faktanya belum dirasakan masyarakat kecil,” tegasnya. Pertanyaan besar kemudian muncul: pembangunan untuk siapa? Kesejahteraan siapa yang menjadi prioritas?
Apa Artinya Bagi Kantong Anda? (Dan Juga Hati Anda)
Kasus di Tenjo ini bukan hanya sekadar berita lokal. Ini adalah cermin dari masalah yang lebih besar: kesenjangan sosial yang semakin menganga. Ini mengingatkan kita bahwa pembangunan harus inklusif, merata, dan berpihak pada mereka yang paling membutuhkan. Apa gunanya gemerlap perumahan mewah jika tetangga kita masih kesulitan mencari tempat berteduh yang layak?
Kepala Desa Cilaku, Jumadi, mengklaim telah mengajukan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) untuk warga. Namun, pengajuan saja tidak cukup. Dibutuhkan tindakan nyata, percepatan proses, dan pengawasan yang ketat agar bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak. Jangan sampai, harapan warga hanya menjadi angan-angan di tengah hiruk pikuk pembangunan.
Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda peduli dengan kondisi di sekitar Anda? Apakah Anda bersedia menjadi bagian dari perubahan, sekecil apapun itu? Karena, membangun peradaban yang berkeadilan, dimulai dari kepedulian kita terhadap sesama.
