Eventbogor.com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mencuat sebagai ancaman nyata bagi stabilitas pasokan energi global.
Situasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia, mendadak memanas setelah Iran memberlakukan kebijakan pembatasan akses yang berubah-ubah dalam hitungan jam.
Dampaknya langsung terasa: dua kapal milik Pertamina International Shipping, Pertamina Pride dan Gamsunoro, terpaksa tertahan di perairan Teluk Arab tanpa bisa melintas.
Kebijakan otoritas Iran yang sulit diprediksi membuat manajemen pelayaran harus ekstra hati-hati, mengingat risiko keselamatan dan gangguan distribusi minyak mentah makin tinggi.
Vega Pita, Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, mengonfirmasi bahwa pihaknya terus memantau perkembangan secara intensif.
Keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama, disusul oleh keamanan armada dan perlindungan muatan energi strategis yang sedang diangkut.
Perusahaan tidak ambil remeh—koordinasi aktif dilakukan dengan kementerian terkait dan instansi maritim nasional untuk mengambil langkah operasional yang aman dan terkendali.
Passage plan atau rencana lintasan pelayaran pun terus diperbarui secara real time, menyesuaikan dinamika keamanan di lapangan.
Ini bukan isu sepele, mengingat Selat Hormuz menjadi gerbang bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia setiap harinya.
Setiap penundaan atau pembatasan lintas, apalagi jika berlarut, berpotensi memicu gejolak harga dan ketidakpastian pasokan, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.