Eventbogor.com – Konflik yang kembali memanas di Timur Tengah bukan cuma bikin harga energi melonjak, tapi juga menguak realitas pahit soal ketahanan energi global.
Laporan Politico baru-baru ini menyoroti betapa negara-negara Barat, meski berambisi lepas dari bahan bakar fosil, justru terjebak dalam ketergantungan strategis yang baru—kali ini pada Tiongkok.
Dominasi Beijing di sektor teknologi energi bersih kini jadi kekuatan geopolitik tersendiri, membentuk ulang peta kekuasaan energi dunia di tengah transisi hijau.
Saat minyak mentah masih jadi poros gejolak ekonomi global, Barat ternyata belum sepenuhnya siap melepaskan diri dari rantai pasok yang rentan.
Konflik yang melibatkan Iran dan dampaknya terhadap suplai minyak hanya mengingatkan satu hal: ketergantungan pada energi konvensional tetap jadi titik lemah utama.
Namun ironisnya, upaya keluar dari jerat itu malah membawa Barat ke ketergantungan lain—yang mungkin lebih sulit dilepaskan.
Sementara Eropa dan Amerika Serikat gencar mendorong dekarbonisasi, infrastruktur dan kapasitas produksi lokal untuk energi terbarukan belum cukup matang.
Alih-alih membangun kemandirian, percepatan transisi justru membuat mereka semakin bergantung pada panel surya, baterai, dan material kritis yang hampir semuanya dikontrol Tiongkok.
Dua dekade investasi besar-besaran di sektor industri hijau membuat Tiongkok kini menguasai sekitar 80 persen produksi panel surya global.
Bukan cuma modulnya, tapi juga bahan baku seperti silikon, litium, dan rare earth—komponen vital yang susah digantikan.