Eventbogor.com – Hujan deras yang melanda Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, pada Senin (20/4/2026) sore memicu bencana longsor dan luapan sungai di Desa Purasari.
Kejadian tersebut menjadi peringatan serius mengenai kerentanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat musim penghujan dengan intensitas tinggi.
Longsor dan banjir di Leuwiliang Bogor terjadi sekitar pukul 17.30 WIB, didorong oleh curah hujan yang tinggi dalam durasi cukup lama.
Tanah di kawasan perbukitan menjadi labil dan tidak mampu menahan aliran air, sehingga menyebabkan longsor di beberapa titik permukiman warga.
Sementara itu, sungai di sekitar Desa Purasari meluap dan memperparah kondisi, menggenangi rumah serta mengancam keselamatan warga.
Laporan awal diterima petugas pada pukul 20.00 WIB dari Kopda Dedi, Babinsa Koramil-16/Leuwiliang, yang langsung meninjau lokasi kejadian.
Beberapa kampung terdampak antara lain Kampung Pel Cianten, Kampung Baru, Kampung Cikaret, Kampung Situ Murni, dan Kampung Pangkalan Limus.
Wilayah-wilayah tersebut berada di kawasan rawan bencana, terutama yang berdekatan dengan aliran sungai dan lereng bukit.
Rumah-rumah warga yang berada di bantaran sungai menjadi sasaran utama material longsor, menyebabkan kerusakan struktural yang cukup parah.
Meskipun tidak ada korban jiwa, lebih dari 20 kepala keluarga terdampak dan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
Sebagian warga masih bertahan dalam kondisi darurat dengan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Tim gabungan dari TNI, Polri, Satpol PP, pemerintah desa, dan perangkat setempat segera melakukan respons cepat di lokasi kejadian.
Mereka melakukan pendataan kerusakan, kaji cepat, serta memberikan imbauan kepada warga untuk tetap waspada.
Kerja bakti massal digelar untuk membersihkan material longsor yang menutup akses jalan utama dan menimbun rumah warga.
“Kami bersama warga bergotong royong membersihkan material longsor agar akses bisa kembali dilalui,” ujar Kopda Dedi.
Upaya ini dilakukan untuk memulihkan mobilitas warga dan mempercepat proses distribusi bantuan.
Selain rumah warga, satu bangunan musala di Kampung Situ Murni juga mengalami kerusakan akibat terjangan longsor.
Struktur bangunan mengalami retak dan sebagian atap ambruk, sehingga sementara waktu tidak dapat digunakan untuk ibadah.
Pemerintah desa dan relawan terus memantau kondisi cuaca dan geografis untuk mencegah terjadinya bencana susulan.
Kopda Dedi juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada, terutama pada malam hari saat potensi longsor lebih tinggi.
Kejadian ini kembali menggarisbawahi pentingnya mitigasi bencana dan penataan lingkungan yang berkelanjutan di kawasan rawan.
Pemantauan intensif terhadap perubahan cuaca dan kondisi tanah akan terus dilakukan hingga situasi benar-benar kondusif.
Pihak terkait juga berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bogor untuk penanganan lanjutan dan penguatan sistem peringatan dini.
Warga diimbau untuk tidak menyepelekan tanda-tanda alam seperti retakan tanah, suara gemuruh, atau aliran air yang tiba-tiba meningkat.
Kesiapsiagaan komunitas lokal menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Kejadian longsor dan banjir di Leuwiliang Bogor diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana.
