Eventbogor.com – Jembatan penghubung utama di Desa Cintamanik, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor mengalami kerusakan parah pada struktur penyangganya.

Bagian besi penopang yang sudah lama rapuh akhirnya patah, membuat jembatan tidak layak dilintasi sama sekali.

Kerusakan ini membuat ratusan kepala keluarga di sekitar lokasi kesulitan beraktivitas harian.

Anak-anak sekolah terpaksa menyeberangi sungai dengan berjalan kaki, sering kali basah kuyup demi bisa sampai ke sekolah.

Akses terputus juga menghambat warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan akses ke pusat ekonomi terdekat.

Jembatan yang dulunya menjadi jalur vital kini hanya bisa dilalui dengan cara darurat menggunakan batang pohon kelapa.

Warga bersama petugas setempat memanfaatkan batang kelapa sebagai jembatan darurat untuk mobilitas dasar.

Meski demikian, kondisi ini tetap membahayakan, terutama saat hujan dan arus sungai meningkat.

Polisi dan BPBD Kabupaten Bogor turun langsung untuk mengevaluasi kondisi jembatan dan memberikan imbauan keselamatan.

AKP Budi Sehabudin, didampingi Wakapolsek Cigudeg AKP Suyadi, menekankan pentingnya kewaspadaan warga saat melintas.

Menurutnya, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam situasi darurat ini.

Jembatan di Desa Cintamanik bukan sekadar infrastruktur, melainkan lifeline bagi ratusan warga.

Ia menghubungkan masyarakat dengan sekolah, puskesmas, pasar, dan fasilitas publik lainnya.

Tanpa jembatan yang layak, akses dasar terganggu secara signifikan.

Kepala Desa Cintamanik, Jamaludin, mengungkapkan bahwa pihak desa telah berkali-kali mengusulkan perbaikan ke pemerintah daerah.

BACA JUGA :  Persiapan Hari Jadi Bogor ke-544 Dikoordinasikan di Desa Malasari

Pengajuan dilakukan ke tingkat kecamatan hingga instansi teknis terkait di Kabupaten Bogor.

Namun hingga kini belum ada respons konkret atau tindak lanjut dari pihak berwenang.

Padahal kondisi jembatan terus memburuk sejak beberapa bulan terakhir.

Jamaludin berharap pemerintah segera memasukkan proyek perbaikan ke dalam anggaran daerah tahun 2026.

Ia menilai perbaikan permanen sangat mendesak untuk mencegah risiko kecelakaan dan isolasi sosial.

Warga kini hanya bisa menunggu dan berharap penanganan cepat dari pemerintah.

Sementara itu, jembatan darurat dari batang kelapa tetap digunakan meski sangat tidak aman.

Kejadian ini kembali menggarisbawahi pentingnya pemantauan infrastruktur pedesaan yang rentan terhadap kerusakan.

Terutama di wilayah terpencil seperti Cigudeg yang sangat bergantung pada akses jembatan.

Kerusakan jembatan bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga soal hak dasar masyarakat atas pendidikan dan kesehatan.

Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, dinas PU, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk solusi jangka panjang.

Pemulihan akses di Desa Cintamanik harus menjadi prioritas infrastruktur di wilayah Bogor bagian selatan.