Eventbogor.com – Di tengah pemadaman listrik yang melanda sejumlah wilayah di Jawa dan Bali, Kampung Tangsijaya, Desa Mekarsari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, justru tetap terang benderang.

Keberhasilan ini bukan hasil dari intervensi pemerintah pusat, melainkan inisiatif lokal yang lahir dari kemandirian warga sejak puluhan tahun lalu.

Kampung Tangsijaya menjadi salah satu contoh nyata penerapan energi terbarukan berbasis mikrohidro, dengan memanfaatkan aliran air dari lereng Gunung Burangrang.

Proyek listrik swadaya ini dimulai sejak tahun 1995, ketika warga sepakat untuk membangun sistem pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) secara gotong royong.

Awalnya, listrik hanya digunakan untuk penerangan malam, namun seiring waktu, kapasitasnya ditingkatkan hingga mampu mendukung aktivitas ekonomi rumah tangga.

Hingga kini, PLTMH Tangsijaya mampu menghasilkan daya sekitar 15 kilowatt, mencukupi kebutuhan lebih dari 100 kepala keluarga.

Keberlanjutan sistem ini dijaga melalui pengelolaan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat yang bertanggung jawab atas pemeliharaan, pembayaran, dan distribusi listrik.

Setiap rumah tangga membayar iuran bulanan sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000, tergantung daya yang digunakan, jauh lebih murah dibanding tarif listrik PLN.

Keberhasilan Tangsijaya menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat yang ingin menjadikannya sebagai model desa mandiri energi.

Menurut Deden Ramdani, salah satu tokoh masyarakat setempat, kunci keberhasilan terletak pada kesadaran kolektif dan komitmen jangka panjang warga.

BACA JUGA :  Ambisi PLTS 100 Gigawatt: Jalan Cepat Indonesia Tinggalkan Diesel

Kami tidak menunggu bantuan, kami membangun bersama dan menjaga bersama, ujarnya.

Model seperti ini menjadi relevan di tahun 2026, di tengah krisis energi dan ketidakstabilan pasokan listrik nasional akibat beban jaringan yang tinggi.

Pemanfaatan sumber daya alam lokal secara berkelanjutan menunjukkan bahwa kemandirian energi bukanlah hal yang mustahil, bahkan di tingkat pedesaan.

Pemerintah daerah diminta untuk tidak hanya melihat Tangsijaya sebagai proyek percontohan, tetapi sebagai inspirasi kebijakan energi desa berbasis komunitas.

Pengamat energi dari Unpad, Dr. Rudi Hermawan, menyatakan bahwa PLTMH seperti di Tangsijaya seharusnya menjadi bagian dari strategi nasional transisi energi.

Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi juga model tata kelola sosial yang kuat, katanya.

Dengan potensi mikrohidro yang tersebar di lebih dari 200 kabupaten di Indonesia, replikasi model Tangsijaya sangat memungkinkan.

Di masa depan, integrasi PLTMH dengan sistem smart grid lokal bisa menjadi langkah maju menuju desa cerdas dan berkelanjutan.

Kampung Tangsijaya membuktikan bahwa kemandirian energi bukan impian, tapi kenyataan yang dibangun dari kesadaran, kerja sama, dan keberlanjutan.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa masyarakat lokal mampu menjadi aktor utama dalam pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah perlu memberikan dukungan regulasi dan insentif agar lebih banyak desa yang bisa meniru langkah Tangsijaya.

Di tengah keterbatasan infrastruktur dan tekanan fiskal, inisiatif berbasis komunitas justru menjadi solusi yang paling tahan banting.

BACA JUGA :  Tanda Kamu Butuh Istirahat, Bukan Malas

Eventbogor.com – Listrik dari lereng gunung bukan lagi metafora, tapi realitas yang menyala di tengah gelapnya ketidakpastian energi nasional.