Eventbogor.com – Kepadatan lalu lintas kembali menyelimuti wilayah Bogor Barat selama libur Idul Fitri 1447 H atau tahun 2026.

Lonjakan volume kendaraan terpantau di sejumlah titik strategis seperti Dramaga, Ciampea, hingga Leuwiliang yang menjadi simpul kemacetan tahunan saat musim mudik dan libur panjang.

Situasi ini memperkuat desakan masyarakat terhadap percepatan pembangunan Jalan Leuwiliang–Rancabungur sebagai solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan di jalur utama.

Integrasi infrastruktur ini dinilai krusial mengingat pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kemacetan yang terjadi secara rutin setiap Lebaran menjadi bukti nyata ketimpangan antara pertumbuhan populasi kendaraan dengan kapasitas jalan yang belum diperluas.

Warga Leuwiliang, Septian Mubarok, menyampaikan bahwa kemacetan saat libur Lebaran sudah menjadi pemandangan tahunan yang mengganggu mobilitas warga.

Ia menekankan bahwa setiap persimpangan mulai dari Leuwiliang hingga Dramaga selalu dipadati kendaraan saat arus mudik dan balik.

“Setiap Lebaran, kemacetan selalu terjadi di hampir semua persimpangan, dari Leuwiliang sampai Dramaga,” ujarnya.

Menurut Septian, pertumbuhan perumahan yang pesat di wilayah Bogor Barat tidak diimbangi dengan pengembangan infrastruktur jalan yang memadai.

Kondisi ini menyebabkan volume lalu lintas melampaui kapasitas jalan yang tersedia saat puncak arus mudik.

Ia berharap proyek Jalan Leuwiliang–Rancabungur atau yang juga dikenal sebagai Lingkar Leuwiliang 2 segera direalisasikan untuk memperlancar arus transportasi.

BACA JUGA :  Pemkab Bogor Andalkan Pusat untuk Realisasikan KRL Tenjo–Jasinga

Wacana pembangunan jalan alternatif ini telah lama digaungkan, namun prosesnya masih berada dalam tahapan kajian teknis oleh pemerintah daerah.

Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi, mengonfirmasi bahwa penetapan lokasi (penlok) untuk proyek tersebut telah selesai dilakukan.

Saat ini, proses berlanjut ke tahap appraisal atau penilaian teknis dan ekonomi proyek sebagai dasar perencanaan anggaran.

“Penlok sudah selesai, saat ini masih dalam kajian dan proses appraisal sebelum masuk ke tahap pembayaran,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah memahami urgensi dan harapan masyarakat terhadap percepatan proyek ini.

Namun, proses pembebasan lahan dan penyiapan anggaran harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas infrastruktur.

Jaro Ade, sapaan akrab Ade Ruhandi, menegaskan komitmen Pemkab Bogor untuk menyelesaikan kajian secepat mungkin agar proyek dapat segera masuk ke tahap konstruksi.

Proyek Jalan Leuwiliang–Rancabungur diharapkan dapat menjadi kunci pengurangan kemacetan dan peningkatan konektivitas antarwilayah di Bogor Barat.

Dengan akses yang lebih lancar, mobilitas warga, distribusi logistik, dan potensi ekonomi lokal dapat berkembang secara optimal.

Pemerintah juga membuka ruang dialog dengan masyarakat untuk memastikan proyek berjalan transparan dan sesuai kebutuhan riil lapangan.

Keberhasilan pembangunan jalan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam transformasi infrastruktur Kabupaten Bogor di tahun 2026 dan seterusnya.