**Eventbogor.com – ** Fenomena tutupnya gerai Menantea baru-baru ini mendadak jadi buah bibir sekaligus bahan evaluasi serius bagi para pelaku usaha di tanah air.
Kasus ini seolah membuka mata banyak pihak bahwa popularitas besar di media sosial ternyata bukan jaminan sebuah bisnis bakal awet tanpa manajemen yang solid.
Para pakar hukum pun mulai angkat bicara mengenai betapa vitalnya peran kontrak kerja sama dan tata kelola perusahaan yang transparan sejak hari pertama berdiri.
Seringkali, pengusaha terlalu asyik mengejar omzet besar sampai-sampai melupakan detail hukum yang sebenarnya bisa jadi pelindung utama saat terjadi sengketa.
Padahal, kalau kita lihat data lapangan, sektor UMKM saat ini menjadi tulang punggung ekonomi dengan menyerap sekitar 120 juta tenaga kerja.
Dengan tanggung jawab sebesar itu, sudah saatnya setiap unit usaha mulai menerapkan sistem yang terstruktur agar tidak gampang goyah diterpa badai persaingan.
Sandiaga Uno dalam sebuah kesempatan juga menekankan bahwa sektor F&B masih sangat menjanjikan, asalkan konsep yang diusung benar-benar matang dan ramah lingkungan.
Kita bisa melihat kesuksesan di pameran besar seperti INACRAFT 2026 atau Festival Jejak Jajanan Nusantara yang membuktikan bahwa minat pasar sebenarnya masih sangat tinggi.
Tantangan sesungguhnya bagi pengusaha lokal sekarang bukan cuma soal kualitas produk, melainkan bagaimana menembus pasar global dengan legalitas yang diakui dunia.
Intinya, kisah Menantea ini adalah pelajaran berharga bahwa membangun bisnis itu bukan cuma soal jualan, tapi juga tentang membangun fondasi hukum dan sistem yang kuat.