Eventbogor.com – Selat Malaka bukan cuma jalur air biasa, tapi poros utama perekonomian global yang sejak abad ke-7 jadi rebutan kekuatan dunia.
Lokasinya yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan membuatnya menjadi pintu gerbang alami antara Timur Tengah dan Asia Timur.
Tak heran jika sekitar 25 persen perdagangan maritim global harus melewati selat sepanjang 805 kilometer ini setiap tahunnya.
Dari minyak mentah untuk China hingga komponen elektronik dari Singapura, hampir semua rantai pasok kunci dunia menyentuh perairan ini.
Karena itu, siapa pun yang mengendalikan Selat Malaka, secara tidak langsung pegang kendali atas denyut nadi ekonomi internasional.
Sejarahnya sendiri dimulai jauh sebelum kolonialisme Barat datang, saat Kerajaan Sriwijaya berjaya di abad ke-7 hingga ke-13.
Sriwijaya memanfaatkan posisinya dengan memungut upeti dari kapal-kapal dagang yang lewat, menjadikan pelabuhan seperti Palembang sebagai pusat perdagangan maritim.
Kekuasaan mereka tak hanya berbasis militer laut, tapi juga diplomasi dan jaringan dagang yang luas di Nusantara.
Namun, nilai strategis Selat Malaka akhirnya menarik perhatian bangsa Eropa, terutama pada abad ke-16 ketika Portugis merebut Malaka pada 1511.
Penguasaan Portugis membuka babak baru dominasi asing, diikuti Belanda dan kemudian Inggris yang memperkuat Singapura sebagai pangkalan dagang.