Eventbogor.com – Sejumlah orang tua siswa kelas VII dan VIII di SMP Negeri 1 Rancabungur, Kabupaten Bogor, menyampaikan keluhan terkait program Education Training Plus (ETP) yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Mei 2026.

Program ETP sebagai bentuk pembelajaran di luar kelas kini menjadi sorotan karena biaya yang dinilai memberatkan dan dugaan tekanan terhadap siswa yang tidak ikut serta.

Education Training Plus menjadi keyword utama dalam diskusi publik mengenai metode pembelajaran alternatif yang diterapkan sekolah, terutama dalam konteks keterlibatan orang tua dan transparansi biaya.

Apa Itu Education Training Plus di SMPN 1 Rancabungur?

Program Education Training Plus merupakan inisiatif pembelajaran yang digagas oleh SMP Negeri 1 Rancabungur bekerja sama dengan komite sekolah.

Sesuai surat pemberitahuan nomor 400.3.5.1/043/20200659 tanggal 7 April 2026, kegiatan ini bertujuan menggabungkan kurikulum formal dengan pendidikan karakter dan eksplorasi lingkungan langsung.

Agenda utama meliputi kunjungan ke Museum Geologi Bandung dan Trans Studio Bandung sebagai bagian dari studi lapangan.

Pihak sekolah menegaskan bahwa Education Training Plus dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar siswa di luar ruang kelas.

Biaya Rp700 Ribu Dinilai Memberatkan

Sejumlah wali murid mengaku keberatan dengan besaran biaya yang harus dikeluarkan, yaitu Rp700 ribu per siswa.

Bagi banyak keluarga, jumlah tersebut dinilai cukup besar, terutama jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi rumah tangga saat ini.

BACA JUGA :  Aksi Damai Wali Murid di Kantor Kecamatan Rancabungur Terkait Dugaan Pungli di SMPN 1 Rancabungur

Meskipun disebut sebagai kegiatan edukatif, sebagian orang tua mempertanyakan apakah kunjungan ke tempat hiburan seperti Trans Studio layak dikategorikan sebagai pembelajaran formal.

Mereka berharap ada evaluasi ulang terhadap komponen biaya dan justifikasi pendidikan dari setiap destinasi kunjungan.

Dugaan Tekanan terhadap Siswa yang Tidak Ikut

Selain isu biaya, muncul dugaan bahwa siswa yang tidak mengikuti program ETP mendapat tekanan dari pihak sekolah.

Salah seorang wali murid menyampaikan bahwa anaknya mendapat ancaman berupa tidak naik kelas atau nilai yang akan sengaja dibuat jelek jika tidak ikut.

Kutipannya menyebutkan, “Studi tour bayar Rp700 ribu ke Bandung. Murid yang tidak ikut diancam dikeluarkan dan tidak naik kelas atau nilainya jelek.”

Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan adanya pelanggaran etika pendidikan dan tekanan psikologis terhadap peserta didik.

Kurangnya Transparansi dalam Sosialisasi

Banyak orang tua juga mempertanyakan proses sosialisasi program Education Training Plus yang dinilai tidak transparan.

Mereka mengaku tidak diundang dalam rapat resmi yang disebut-sebut sebagai forum kesepakatan bersama.

“Rapat itu enggak ada, sekalinya ada pertemuan para wali murid gak boleh nyalahin handphone,” ujar salah satu wali murid.

Hal ini menimbulkan kesan bahwa keputusan diambil secara sepihak tanpa partisipasi aktif dari perwakilan orang tua.

Respons Sekolah dan Tindak Lanjut yang Diperlukan

Surat edaran resmi program ETP ditandatangani oleh Kepala SMP Negeri 1 Rancabungur, Drs. Khodijah.

BACA JUGA :  Presiden AS Dievakuasi Saat Suara Tembakan Menggema di Acara Elit Gedung Putih

Hingga kini, pihak sekolah belum memberikan klarifikasi publik terkait dugaan tekanan dan ketidakjelasan proses komunikasi dengan wali murid.

Diperlukan dialog terbuka antara sekolah, komite, dan orang tua untuk memastikan program edukatif tetap inklusif dan tidak diskriminatif.

Ke depan, transparansi, keterbukaan informasi, dan kepatuhan terhadap prinsip pendidikan yang adil harus menjadi prioritas dalam penyelenggaraan kegiatan seperti Education Training Plus.