Tapi kini mereka mulai menggeser fokus ke alternatif yang lebih berkelanjutan dan berbasis sumber daya sendiri: DME atau dimetil eter.
DME dipandang sebagai terobosan cerdas karena bisa diproduksi dari batu bara kalori rendah—jenis batu bara yang selama ini kurang bernilai ekspor tapi jumlahnya melimpah di dalam negeri.
Dengan proses hilirisasi, batu bara murah bisa diubah jadi energi yang ramah lingkungan dan fungsional sebagai pengganti LPG.
Menurut Bahlil, langkah ini bukan cuma soal mengurangi impor, tapi juga soal menaikkan nilai tambah dari komoditas kita sendiri.
DME bisa jadi kunci untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus menopang perekonomian nasional di tengah gejolak pasar global.
Pemerintah sadar, ketergantungan pada impor LPG tak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Di tahun 2026, langkah nyata mulai digenjot—dari evaluasi kebijakan lama hingga investasi serius di sektor hilirisasi energi.
Jika berhasil, bukan mustahil Indonesia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tak lagi tergantung pada pasokan asing untuk kebutuhan energi dasar.