Eventbogor.com – Suasana di sekitar aliran Sungai Cikalong yang menghubungkan Desa Kalong Sawah, Kecamatan Jasinga, dengan Desa Mekarjaya, Kecamatan Cigudeg, terasa berbeda pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Warga, aparatur desa, tokoh masyarakat, serta perwakilan perusahaan berkumpul dalam satu agenda bersama: memulihkan ekosistem sungai yang sempat terganggu akibat pencemaran limbah pada 16 April lalu.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diinisiasi oleh PTPN Nusantara IV Distrik Jawa Barat-Banten.

Sebagai langkah konkret pemulihan, perusahaan melakukan aksi penebaran 10.000 benih ikan di aliran Sungai Cikalong yang terhubung dengan Sungai Cidurian.

Eventbogor.com – Penebaran benih ikan menjadi simbol pemulihan lingkungan yang berkelanjutan dan terukur.

Kegiatan ini juga menunjukkan komitmen nyata dalam upaya [Masukkan Keyword Utama] yang melibatkan kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat lokal.

PTPN Nusantara IV memilih jenis ikan nila dan tawes karena kedua spesies ini memiliki daya adaptasi tinggi dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan.

Setiap spesies ditebar sebanyak 5.000 ekor, dengan harapan dapat mempercepat regenerasi kehidupan biota air di sungai yang sempat mati suri akibat kontaminasi limbah.

Manager PKS Cikasungka, Alfi Andrianto, hadir langsung dalam kegiatan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi.

Ia menegaskan bahwa penebaran benih ikan bukan hanya bentuk tebusan, tetapi juga bukti tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

BACA JUGA :  Banjir Kembali Terjang Kampung Bolang Cigudeg, Warga Minta Perbaikan Tanggul Segera Dilakukan

“Hari ini kami berupaya menebus kesalahan itu dengan menebar 5.000 ikan nila dan 5.000 ikan tawes,” ujarnya.

Kata-kata tersebut disampaikan di hadapan perwakilan masyarakat, aparat keamanan, dan lembaga desa yang turut hadir dalam aksi pemulihan tersebut.

Eventbogor.com – Pemulihan ekosistem sungai tidak bisa dilakukan secara parsial.

Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar dampak dari pencemaran dapat diminimalkan secara jangka panjang.

Oleh karena itu, kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Koramil, Polsek, Satgas Lingkungan, Karang Taruna, KNI Jasinga, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa.

Partisipasi luas ini mencerminkan bahwa pelestarian sumber daya air adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya milik satu instansi atau kelompok.

Eventbogor.com – Dukungan juga datang dari tingkat nasional.

Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi NasDem, Asep Wahyu Wijaya, menyampaikan pesan melalui staf ahlinya, Iksan, yang hadir mewakili.

Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap insiden pencemaran yang terjadi.

Menurutnya, tindakan pemulihan seperti penebaran ikan harus dibarengi dengan solusi struktural jangka panjang.

“Perlu ada pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) permanen agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Iksan menyampaikan pesan Asep Wahyu Wijaya.

IPAL permanen dinilai sebagai langkah preventif yang efektif untuk mengendalikan kualitas limbah industri sebelum dibuang ke badan air umum.

Eventbogor.com – Masyarakat setempat menyambut baik langkah pemulihan ini.

BACA JUGA :  Parung Panjang Berbenah: Rp500 Miliar untuk Infrastruktur, Harapan Baru Warga?

Banyak yang berharap agar kegiatan serupa dapat berkelanjutan dan diikuti dengan transparansi data kualitas air sungai secara berkala.

Beberapa warga juga mengusulkan agar dibentuk forum pengawasan lingkungan bersama yang melibatkan perusahaan dan komunitas lokal.

Inisiatif ini dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sungai dan mencegah eksploitasi berlebihan di masa depan.

Eventbogor.com – Aksi penebaran benih ikan di Sungai Cikalong menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi dapat mendorong pemulihan lingkungan pasca-bencana ekologis.

Langkah ini tidak hanya memperbaiki kondisi fisik sungai, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap komitmen perusahaan.

Dengan integrasi [Masukkan Keyword Utama], pendekatan partisipatif, dan solusi berbasis keberlanjutan, pemulihan ekosistem bisa dicapai secara bertahap namun pasti.

Ke depan, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan sumber daya air.