Eventbogor.com – Bank Indonesia kini memperluas manuvernya ke pasar spot, DNDF domestik, hingga transaksi offshore guna meredam gejolak nilai tukar rupiah yang makin tak menentu.

Tekanan eksternal yang terus menguat, terutama dari konflik geopolitik dan perubahan arah kebijakan moneter global, memaksa BI meningkatkan respons kebijakan demi menjaga stabilitas makroekonomi nasional.

Saat ini, ketegangan di Timur Tengah berdampak langsung pada gangguan distribusi energi dan jalur pelayaran internasional, membuat harga minyak dan komoditas melonjak tajam.

Kenaikan harga energi itu turut mendorong inflasi global naik ke level 4,2 persen, sementara pertumbuhan ekonomi dunia direvisi turun menjadi 3 persen.

Kondisi ini jelas membayangi prospek ekonomi domestik, termasuk daya beli masyarakat yang rentan terhadap tekanan harga impor.

Dalam pertemuan media di Bandung, Jumat (24/4/2026), Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menegaskan bahwa intervensi dilakukan secara aktif di berbagai instrumen pasar keuangan.

Langkah ini bukan cuma reaksi darurat, tapi bagian dari bauran kebijakan yang diperketat untuk mengantisipasi risiko lebih dalam.

Perluasan intervensi ke pasar offshore, misalnya, menunjukkan kedalaman strategi BI dalam menangkal spekulasi valas yang bisa memperparah volatilitas rupiah.

Meski begitu, pertanyaannya tetap menggantung: apakah langkah agresif ini cukup ampuh menghadang badai eksternal yang datang silih berganti?

Pemerintah sendiri tidak tinggal diam, dengan percepatan belanja negara sebagai upaya menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ancaman perlambatan global.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto 'Satu Meja' dengan DPRD: Rencanakan Pembangunan Bogor yang Lebih Baik

Proyeksi pertumbuhan Indonesia untuk 2026 dipatok antara 4,9 hingga 5,7 persen, dengan target inflasi yang tetap dijaga dalam koridor aman.

Otoritas juga memastikan likuiditas valuta asing di perbankan masih stabil, sehingga kebutuhan nasabah bisa terpenuhi tanpa tekanan nilai tukar yang berlebihan.

Namun, tantangan utama tetap ada di luar kendali domestik—konflik global dan fluktuasi harga komoditas bisa berubah cepat, dan itu butuh kewaspadaan ekstra.

Upaya BI kali ini bukan soal menahan rupiah agar tak melemah sama sekali, tapi menjaganya dari pelemahan berlebihan yang bisa memicu ketidakseimbangan ekonomi.

Dengan kombinasi intervensi pasar dan koordinasi kebijakan fiskal, harapannya stabilitas ekonomi tetap terjaga meskipun angin global terus berhembus kencang.