Eventbogor.com – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa penyediaan toilet sekolah yang layak dan bersih menjadi prioritas utama dalam pengembangan infrastruktur pendidikan nasional.

Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan, terutama di daerah terpencil dan berbasis inklusi sosial.

Infrastruktur pendidikan tidak hanya mencakup ruang kelas dan perpustakaan, tetapi juga fasilitas sanitasi yang memadai sebagai bagian dari hak dasar peserta didik.

Menurut AHY, toilet sekolah yang buruk dapat memengaruhi kesehatan siswa, partisipasi belajar, terutama bagi siswi, serta menurunkan martabat lingkungan pendidikan.

Dalam kunjungan kerja ke sejumlah sekolah di Jawa Barat, AHY meninjau langsung kondisi toilet di beberapa SD dan SMP negeri yang sebelumnya mendapat perhatian publik akibat fasilitasnya yang tidak memadai.

Ia menyatakan bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana khusus melalui program padat karya infrastruktur pendidikan untuk memperbaiki dan membangun toilet sekolah di 10.000 lokasi pada tahun 2026.

Proyek ini juga akan melibatkan masyarakat lokal dan tenaga kerja lokal untuk mendorong pemberdayaan ekonomi di sekitar sekolah.

“Toilet sekolah yang bersih dan layak bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh negara,” ujar AHY dalam keterangan pers, Kamis (12/6/2026).

Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk komunitas pendidikan, organisasi kesehatan, dan lembaga swadaya masyarakat.

BACA JUGA :  Zeekr Mendarat di Indonesia: Mobil Listrik Premium yang Siap Gebrak Pasar?

Perwakilan dari UNICEF Indonesia menyatakan bahwa akses terhadap sanitasi layak di sekolah merupakan indikator penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya target 6.2 terkait sanitasi dan kebersihan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga telah menyusun panduan teknis pembangunan dan perawatan toilet sekolah berbasis inklusi dan ramah anak.

Panduan tersebut mencakup desain ergonomis, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, ventilasi, serta sistem pengolahan limbah yang aman.

Program ini akan dikawal oleh tim lintas kementerian, termasuk Kemenko Maritim dan Investasi, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian PUPR.

Targetnya, pada akhir 2026, tidak ada lagi sekolah di Indonesia yang memiliki toilet rusak parah atau tidak layak pakai.

Upaya ini juga menjadi bagian dari gerakan nasional “Toilet Layak untuk Setiap Anak” yang dicanangkan oleh Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Langkah konkret seperti pelatihan bagi petugas kebersihan sekolah, pemasangan tanda penggunaan, serta kampanye edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga akan dilaksanakan secara serentak di seluruh provinsi.

Menurut data Kemendikbudristek tahun 2025, masih terdapat sekitar 12 persen sekolah dasar dan menengah di Indonesia yang memiliki fasilitas toilet tidak memenuhi standar nasional.

Di Jawa Barat sendiri, angka tersebut mencapai 9,8 persen, dengan wilayah Kabupaten Bogor, Garut, dan Cianjur menjadi fokus utama perbaikan tahun ini.

“Kami ingin setiap anak merasa aman, nyaman, dan dihargai saat berada di sekolah,” tambah AHY.

BACA JUGA :  Negara yang Sukses Ubah Sampah Jadi Listrik: Inspirasi Buat Dunia

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesehatan dan kenyamanan, tetapi juga berdampak positif terhadap angka partisipasi dan retensi siswa, khususnya di jenjang pendidikan dasar.

Ke depan, inovasi seperti toilet ramah lingkungan berbasis biogas dan sistem daur ulang air juga akan diuji coba di beberapa sekolah percontohan di Bogor dan Bandung.

Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan harus holistik, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan anak.